PSBB Jakarta Turut Andil Penyebab Indonesia Resesi

PSBB Jakarta Turut Andil Penyebab Indonesia Resesi

Ekonom Kampus Indonesia, Fitrah Faisal Hastiadi menjelaskan implementasi peraturan Limitasi Sosial Bertaraf Besar (PSBB) di DKI Jakarta jadi salah satunya factor perkembangan ekonomi nasional.

Ia memperbandingkan implementasi PSBB pertama pada awal virus menebar dengan dibalikkannya PSBB peralihan jadi PSBB (PSBB ke-2 ). Dari tanda PMI implementasi PSBB benar-benar punya pengaruh. Saat sebelum wabah Covid-19 index PMI ada di tingkat 51. Index PMI turun pada bulan Februari-Maret jadi 47. Waktu implementasi PSBB pertama, index PMI menurun jadi 27. Lantas waktu Pemerintahan Propinsi DKI Jakarta mengaplikasikan PSBB peralihan, pada bulan Agustus index PMI bertambah ke tingkat 58. Tetapi saat difungsikan kembali lagi PSBB, index PMI kembali lagi turun di tingkat 47.

“Saat PSBB (ke-2 ) jeblok di tingkat 47. Jebloknya semakin sedikit tapi ini telah untuk balik lagi,” kata Fitrah dalam dialog Masalah Trijaya bertema Dampak Krisis di tengah Wabah, Jakarta, Sabtu (7/11/2020).

Tetapi keseluruhannya, Fitrah memandang sekarang ini keadaan mulai kompak. Ekonomi nasional mulai adaptive hingga dapat menolong waktu pemercepatan stimulan pajak.

Dunia internasional malahan kata Fitra menyaksikan perkembangan ekonomi nasional cuman minus 1,5 % secara tahunan. Mereka percaya diri di tahun 2021 perkembangan ekonomi dapat tumbuh 6 %.

“Jika kata IMF (perkembangan ekonomi) tahun 2020 (Indonesia) minus 1,5 % tetapi pada tahun 2021 tumbuh 6 %,” katanya.

Menurut Fitrah pelambatan ekonomi yang berlangsung di Indonesia akibatnya karena kecemasan global. Sesaat sejauh ini perkembangan perekonomian Indonesia didukung konsumsi lokal. Hingga untuk dapat kembali lagi seperti kondisi seluruh semakin lebih memungkinkannya.

“Kita tidak begitu hubung dengan global, perkembangan ekonomi kita ini factor lokal,” katanya.

Indonesia sah masuk masa krisis teknikal sesudah Tubuh Pusat Statistik (BPS) umumkan perkembangan ekonomi pada kuartal III 2020 terkontraksi 3,49 %. Pada kuartal awalnya, perekonomian Indonesia minus 5,32 %.

Walau masih minus, ada keinginan perekonomian Indonesia dapat kembali bangkit dengan amunisi yang dipersiapkan pemerintahan. Anggota Federasi Pebisnis Indonesia (Apindo) Anton J. Supit menjelaskan, bila Covid-19 usai, karena itu krisis dapat dijauhi.

“Karenanya prosedur kesehatan harus benar-benar dikerjakan serta dipantau. Ini yang paling fundamental karena jika tidak, sebentar-sebentar PSBB (limitasi sosial),” tutur Anton ke Liputan6.com, Jumat (6/11/2020).

Bila PSBB digas-rem dalam waktu yang bersisihan, dunia usaha tidak dapat bekerja dengan optimal. Menurut Anton, memacu ekonomi harus dengan menangani wabah.

Sambungnya, studi dari beberapa instansi riset mengatakan jika naiknya aktivitas ekonomi akan membuat trend wabah ikut naik. Tetapi bila rutinitas tidak berjalan, ekonomi tidak tumbuh.

Itu mengapa, dalam realisasinya, rutinitas ekonomi tetap harus jalan dengan prosedur kesehatan yang tambahan berhati-hati. Dengan demikian, Indonesia dapat keluar dari krisis.

“Kita tidak dapat dikotomikan wabah serta ekonomi. Kekeduanya penting,” kata Anton.

Pemerintahan menyaksikan beberapa tanda pembaruan di kuartal III 2020, walau angka perkembangan ekonomi terkontraksi minus 3,49 %, yang menggerakkan Indonesia masuk krisis ekonomi. Perkembangan negatif ini juga mempunyai potensi masih bersambung sampai akhir ta…