Petama Kali, Pemerintah Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi

Petama Kali, Pemerintah Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi

Staff Spesial Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo menjelaskan wabah Covid-19 ini membuat pemerintahan untuk pertamanya kali jadi penyangga khusus perkembangan ekonomi waktu alami pelambatan ekonomi. Pemerintahan kesempatan ini pasang tubuh saat seluruh bidang mulai terusik serta membuat warga tertekanan.

“Ini pertama kali pemerintahan menjadi penyangga khusus, saat pasar terusik serta masyarakat tertekan,” kata-kata Yustinus dalam dialog Masalah Trijaya bertema Dampak Krisis di tengah Wabah, Jakarta, Sabtu (7/11/2020). Walau demikian, Yustinus menyebutkan pemerintahan mempunyai kebatasan dalam selamatkan bidang ekonomi. Hingga mau tak mau lakukan perluasan minus bujet sampai 6,34 % tahun ini. “Sebab ini tanggung jawab serta harus diambil karena itu (pada akhirnya) melebarkan minus APBN jadi 6,34 %,” katanya.

Karena, lanjut ia pemerintahan alami kenaikan pembiayaan sampai lebih dari Rp 900 triliun. Pada keadaan ini penghasilan negara dari pajak juga turun.
Karena itu bermacam pembiayaan dikerjakan dengan menambahkan hutang baik itu ke luar negeri atau ke bank sentra dengan proses burden share. Yustinus menjelaskan sekarang ini Bank Indonesia serta pemerintahan sudah bekerja bersama untuk tangani imbas wabah dengan memberi pembiayaan.
Dalam proses burden share ini, bank sentra beli surat hutang negara dengan proses last resor.
“Pembiayaan hutang ini dengan burden share dengan Bank Indonesia sebab ke-2 nya sama pahami kondisi,” katanya.
Ia menambah, proses burden share ini telah lebih dari cukup buat membantu pemerintahan untuk memberi stimulan ke warga. Hingga ia memandang lajur bikin uang tidak dilakukan pemerintahan untuk menangani persoalan perkembangan ekonomi sekarang ini.

“Saya kita dengan pola burden share ini cukup,” katanya akhiri. Federasi Pebisnis Indonesia (APINDO) meramalkan perkembangan ekonomi di kuartal IV akan lebih baik bila konsumsi rumah tangga lebih didorong kembali dengan perlakuan covid-19 secara baik. “Itu bisa diprediksi perkembangan minus, hanya kan kita itu tidak seperti negara yang lain minusnya lebih dalam kembali. Tapi negara lain susunan ekonominya seperti Thailand serta Singapura kan didalamnya export. Sedang kita didalamnya konsumsi,” kata Wakil Ketua APINDO Sektor Ketenagakerjaan Bob Azam, ke Liputan6.com, Jumat (6/11/2020).

Hingga bila konsumsi rumah tangga Indonesia minus terus-terusan karena itu beresiko bisa memengaruhi perkembangan ekonomi. Walau sekarang ini perkembangan ekonomi di kuartal III 2020 minus 3,49 % cukup rendah dibandingkan kuartal II yaitu minus 5,32 %.
Namun saja disaksikan dari konsumsi rumah tangga di kuartal III cuman turun sedikit saja dari mulanya. Dari 5,5 % di kuartal II jadi 4,04 % di kuartal III 2020 ini.
“Walapun kita minus (perkembangan ekonomi) tidak besar tetapi kita harus juga siaga. Sebab kita dikuasai oleh konsumsi perkembangan ekonominya, jadi sangat penting untuk kita untuk menggerakkan konsumsi. Agar ekonomi kita dapat masuk di zone recovery,” terangnya.
Bob menerangkan zone recovery itu ialah zone di mana beberapa perusahaan itu telah bekerja di atas titik impas. Jika masih kerja di bawah titik impas berarti perusahaan masih “pendarahan” artinya.
Bila pendarahan terus-terusan hingga ujungnya dapat collapse, karena itu Pemerintahan harus menggerakkan perusahaan secepat-cepatnya bergerak di titik impas, dengan menggerakkan konsumsi.
“Jadi sesungguhnya negara lain menyaksikan kita kesempatannya besar untuk dapat recovery cepet sebab tinggal naikin saja konsumsi. Jika mereka menyaksikan konsumsinya tidak tumbuh kembali atau ngepas bergantung export itu berat. Kan nantikan perbaikan perekonomian dunia dahulu,” katanya.
Kata Bob, seharusnya Indonesia dapat lebih bagus kembali dibanding negara lain, jika Indonesia sukses kembalikan konsumsi rumah tangga yang turun. Karena itu kemungkinan besar investor yakin kembali lagi ke Indonesia untuk memberikan modal.
“Kita itu benar-benar bergantung untuk menggerakkan konsumsi bagaimana pengendalian wabah covid-19, sebab salah satunya fakta orang kurangi konsumsi sebab ia tidak confidence dengan ekonomi di depan karena wabah belum memperlihatkan titik pucuknya,” ujarnya.
Wabah covid-19 pada akhirnya menggeret Indonesia ke jurang krisis. Tubuh Pusat Statistik papar perkembangan ekonomi indonesia di kuartal ke-3 minus 3,49 %.