Harga Ayam Jatuh Padahal Konsumsi Stabil, Ternyata Ini Penyebabnya

Harga Ayam Jatuh Padahal Konsumsi Stabil, Ternyata Ini Penyebabnya

Direktur Jenderal Peternakan serta Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah, memaparkan pemicu jebloknya harga ayam hidup di tengah-tengah wabah Covid-19. Terutamanya di peternakan berdikari atau peternakan rakyat.

Menurut dia, ini disebabkan oleh kurang kuatnya kekuatan peternak berkaitan penetratif pasar dalam negeri yang paling aktif.

“Mengapa harga livebird remuk, tapi status pada tingkat konsumsi konstan? Pertama, status peternak belum kuat, terutamanya peternak berdikari serta rakyat. Hingga daya tawar peternak kita kurang kuat pada pasar,” katanya dalam seminar-online bertopik “Membenahi Ulangi Industri Perunggasan yang Berdaya Saing” Rabu, (11/11).

Nasrullah menjelaskan, karena kurang kuatnya kekuatan peternak ayam dalam lakukan penetratif pasar, karena itu diperlukan layanan mediator. Hingga kurangi nilai ekonomis yang dipunyai oleh peternak.

“Sebab tidak ada peternak langsung akses ke pasar. Jadi, dibutuhkan oleh 2 sampai 3 tingkat (mediator) ke arah pasar. Status ini saat sebelum sampai ke pengguna akhir ini memerlukan margin. Hingga mau tidak mau, peternak tidak dapat menkenan harga di customer,” tuturnya.

Di lain sisi, ia memandang, dari sisi peraturan jika perkembangan harga dasar produksi (HPP) livebird lebib kuat dari perkembangan livebird sendiri. Akhirnya persoalan disparitas harga jadi tidak bisa dihindari.

Oleh karenanya, faksinya menggerakkan kerja sama yang lebih intensif antar kementerian serta instansi berkaitan untuk hasilkan jalan keluar pas. minta saran dari sekolah tinggi atau ahli di bagian berkaitan untuk hasilkan peraturan yang pas target untuk peternak ayam.

“Keadaan sekelumit barusan itu berpengaruh ke semua. Sampai kita tidak tahu kembali benang kusutnya di mana, hingga perlu suport ahli,” sambungnya.

Awalnya, Federasi Warga Peternak Sumatera Selatan memprediksi sejumlah besar usaha peternakan ayam di Palembang akan gulung tikar atau pailit dalam beberapa minggu di depan. Diantaranya dipacu pelemahan daya membeli warga karena penebaran virus corona.

Ketua Federasi Warga Peternak Sumatera Selatan, Ismaidi Chaniago menjelaskan, harga ayam yang tetap jeblok membuat peternak ayam, terutamanya peternak kecil tidak bisa bertahan kembali pada keadaan ini

“Prediksi kami, kelak habis Lebaran pada tutup semua. Yang masih ada tinggal peternak ayam yang besar saja. Waktu itu berlangsung, karena itu harga ayam akan naik tajam,” kata Ismaidi.

Ia menjelaskan, harga jual ayam di kandang sekarang ini cuman Rp 12.000 per Kg, hingga harga di pasar tradisionil cuman sekitar Rp 22.000 per Kg

Beberapa ratus ayam punya peternak di Jombang, Jawa Timur mati tiba-tiba, Kamis (31/10/2019 ) siang. Diperhitungkan ayam tidak kuat bertahan dengan temperatur panas berlebihan.